Minggu, 22 Mei 2011

SEJARAH BAPELKES SALAMAN

Bapelkes Salaman

Pada masa perang kemerdekaan dimana Pemerintahan  Pusat
Republik Indonesia berada di Yogyakarta, Kementrian
Kesehatan didalam struktur organisasinya mempunyai bagian
yang bernama Usaha Hygiene dan Pendidikan Kesehatan
Rakyat.
Bagian tersebut  berlokasi di kota Magelang  propinsi Jawa
Tengah
Pada masa itu sampai tahun 1951 pimpinanya di jabat oleh dr.
R . Muchtar , kemudian antara tahun 1951 sampai tahun 1953
bagian ini di pimpin oleh dr . Much Sutjipto.
Adapun kegiatan utamanyya pada waktu itu ialah mendidik
calon-calon pendidik Hygene
Dan juga mengadakan latihan / kursus Statistik bagi tenaga -
tenaga kesehatan yang siswanya datang dari beberapa daerah
, bahkan dari luar Jawa.

Untuk dapat melaksanakan fungsinya dengan baik  yaitu
sebagai suatu unit pendidikan , tentu saja di perlukan tempat
tinggal yang berupa asrama bagi para siswanya dan tempat
untuk kegitan administrasi yang berupa kantor bagi
karyawan-karyawanya. Namun  oleh karena keadaan situasi
pada waktu itu  belum memungkinkan bagian usaha Hygiene
dan Pendidikan Kesehatan Rakyat mempunyai gedung sendiri
, maka untuk sementara menumpang di rumah sakit Jiwa
Kramat Magelang .

Perkembangan selanjutnya Sekolah Pendidikan Hygiene ini
dirubah menjadi Sekolah Pengamat Kesehatan A/B (Hygiene)
.Keadaan ini berjalan hingga tahun 1961 .

Pada tanggal 1 juni 1963 Sekolah Pengamat Kesehatan A/B
pindah ke Kecamatan Salaman  walaupun kantornya kecil dan
sederhana namun di tanah yang luasnya  16.000 M2 sehingga
dapat menjamin untuk perkembangan selanjutnya .

Kota Salaman ini merupakan Ibukota Kawedanan , letaknya
setrategis , dekat dengan daerah pariwisata Candi Borobudur
dan hanya berjarak 42 Km dari Yogyakarta  dengan Adi sucipto
sebagai Bandar udaranya .
Demikian juga lokasi gedung Sekolah dan Kantor  Pengamat
Kesehatan ini terletak di tepi jalan raya yang meng hubungkan
Ibu kota Provinsi Jawa Tengah ( Semarang  ) yang terletak di
tepi pantai laut Jawa dengan  kota Cilacap yang terletak di tepi
pantai Samudra Hindia (Indonesia) demikian juga dari lokasi itu
( kota Salaman ) , kota wonosobo  yang mempunyai daerah
Plateau Dieng  dapat dicapai dengan mudah .

Perkembangan yang sangat berarti dalam sejarah
perkembangan BLKM   Salaman adalah sejak adanya proyek
Departemen Kesehatan untuk membentuk Daerah Latihan dan
Percontohan Kesehatan Masyarakat   ( DLPKM)  di tiap- tiap
Provinsi .




Dalam pelaksanaannya untuk Jawa Tengah DLPKM ini
dikembangkan dari Sekolah Pemgamat Kesehatan A/B yang
ada di Salaman,sehingga terhitung mulai tanggal 1- Juni-1964
bedirilah proyek DPLKM Salaman-Magelang untuk propinsi
Jawa-Tengah.
Adapun fungsi DPLKM ini ialah menjadi Pusat Latihan bagi
semua tenaga kesehatan yang telah bekerja dan yang akan
bekerja, demikian juga melatih siswa-siswi dari Lembaga
Pendidikan / Sekolah tenaga-tenaga kesehatan.
Latihan-latihan ini meliputi penyelengaraan dan pelaksanaan
program kesehatan terutama di desa-desa dan arahnya dititik
beratkan atas dasar :

1.    Ikut sertanya masyarakat dalam perencanaan dan
pelaksanaan usaha-usaha kesehatan.
2.    Integrasi usaha-usaha kesehatan dengan pengertian
bahwa program kesehatan dilihat dari sebagai keseluruhan
prioritas,penyelenggaraan usaha didasarkan atas kebutuhan
masyarakat setempat dan masing-masing tenaga kesehatan
memberikan sumbangan menurut kemampuannya mengatasi
masalah yang waktu itu dihadapi.
3.    Team approach, artinya staf kesehatan bekerja
sebagai satu regu dan selalu bersama memecahkan
masalah-masalah  yang dihadapi .
4.    Kerjasama dengan petugas - petugas dari semua
jawatan setempat .
Kemudian dengan adanya konsep pengembangan
Strengthening of National Health Services yang menjadi
landasan dari Rakerkesnas pada tahun 1969 , maka di
cetuskan perlu adanya pelayanan kesehatan yang terintegrasi
dan menyeluruh ( Integrated Health Services and
Comprehensive Health Care )  melalui Kesehatan Masyarakat .
Atas dasar konsep tersebut di atas ,  DLPKM  yang sudah
berpengalaman di dalam pelayanan integrasi dan menyeluruh
didaerah Salaman diberikan tambahan tugas pokok dimana
selain melatih tenaga-tenaga kesehatan juga memberikan
pelayanan kesehatan dan percontohan  seperti yang di
laksanakan di Pusat Kesehatan Masyarakat .
Langkah - langkah utama yang di laksanakan DLPKM
untuk berfungsi sebagai Pusat  Kesehatan Masyarakat  adalah
mengintegrasikan semua unit-unit pelayanan kesehatan yang
ada di ex  Kawedanan Salaman dalam Pusat-pusat kesehatan
Masyarakat . Adapun unit-unit yang di integrasikan yersebut
ialah  : Rumah Sakit Pembantu Salaman dan Balai Pengobatan
(Milik Pemerintah Daerah ) dan unit Kesehatan Propinsi  yaitu
unit Pemberantasan Penyakit Malaria ( UPM ) demikian juga
unit Kesehatan Ibu dan Anak milik Departemen Kesehatan .
Didalam mewujudkan pelaksanaan integrasi tersebut maka di
wilayah ex Kawedanan  Salaman didirikan Puskesmas Tipe A
(Pembina ) di Kecamatan Salaman , kemudian puskesmas Tipe
B di 3 (tiga) Kecamatan yaitu Kecamatan  Borobudur,
Kecamatan Kajoran dan Kecamatan Tempuran  serta
beberapa Puskesmas Tipe C di beberapa desa .
Baik Puskesmas Tipe A maupun Tipe B dan Tipe C
melaksanakan kegiatan sesuai dengan petunjuk-petunjuk hasil
Rapat Kerja Kesehatan Nasional tahun 1969 .

Didalam penyelenggaraan latihan dan pelayanan kesehatan
masyarakat,agar tidak terjadi jesimpang-siuran dengan Dinas
Kesehatan Rakyat Kabupaten Magelang, maka oleh Bupati
Magelang dikeluarkan Surat Keputusan untuk pengaturannya
dimana didalam SK Bupati tertanggal, 6 Mei 1968 yang
mengandung 13 ketentuan-ketentuan diantaranya dinyatakan
sebagai berikut:
-Bahwa DLPKM adalah suatu proyek kesehatan masyarakat
dari            Departemen Kesehatan  untuk daerah propinsi
Jawa Tengah yang mempergunakan daerah ex Kawedanan
Salaman sebagai daerah kerjanya.

-    Pemimpin DPLKM mendapat kuasa penuh dari Kepala
Dinas Kesehatan Rakyat Kabupaten Magelang untuk
memimpin serta bertanggung-jawat penuh segala sesuatu
mengenai kesehatan masyarakat ( termasuk Rumah Sakit
Pembantu ) di daerah ex Kawedanan Salaman, dan
bertanggung-jawab kepada Kepala Dinas Kesehatan Rakyat.

-  Dalam latihan dan pendidikan,DLPKM dengan pimpinannya
langsung ada dibawah pengawasan Inspektur Kepala Dinas
Kesehatan Rakyat Propinsi Jawa-Tengah.

-    Surat Keputusan tersebut diatas ditanda tangani
selain oleh Bupati Kepala Daerah yaitu Drs.Achmad, juga oleh
dr. Suhardi Prajogo sebagai Kepala Dinas Kesehatan Rakyat
Kabupaten Magelang, dan dr. Surjadi Hadiprojo sebagai
pemimpin DLPKM.

-    Dalam perkembangannya antara kurun waktu tahun
1968-1971 telah terjadi perkembangan-perkembangan dimana
DLPKM Salaman dengan pimpinan dr. Widjojo Tedjosaputro
mempunyai 2 (dua) fungsi yaitu fungsi sebagai Pusat Latihan
dalam bidang kesehatan masyarakat,dan fungsi yang lain
bahwa DLPKM menjadi Puskesmas Tipe A (Pembina).
Dalam bidang kegiatan Puskesmas Tipe A perlu dicatat adalah
keberhasilannya,ialah:
-    Adanya usaha KIA, Usaha Kesehatan Sekolah,
Pos-pos Kesehatan Desa, Mobile Team untuk dapat
menjangkau desa-desa yang terperincil, serta pengembangan
Rumah Sakit Pembantu Salaman dengan usaha rawat jalan
dan rawat tinggal yang memadai . 
Dan juga kegiatan yang lain yang perlu dikemukakan adanya
usaha percontohan dalam bidang Hygiene dan Sanitasi
disamping usaha-usaha pokok yang lain  ialah Pemberantasan
Penyakit Malaria dan Sistem pencatatan dan Pelaporan
Kelahiran dean Kematian oleh Petugas -Petugas  Puskesmas .
Dalam bidang Pendidikan dan Latihan pada kurun waktu
tersebut diatas kegiatanya antara lain :
-    Latihan bagi Mahasiswa Kedoktereaan UNDIP
Semarang yang makin luas dengan telah dikembangkanya dari
latihan dalam bidang Hygiene dan Sanitasi serta KIA menjadi
latihan untuk kegiatan - kegiatan Puskesmas secara integrasi
dan komprehensif .

-    Latihan dalam bidang Puskesmas bagi seluruh siswa
Bidan,Perawat,Sanitarian dan semua siswa paramedis dari
sekolah - sekolah yang brada di Jawa tengah .                         




Usaha Latihan siswa ini didukung oleh Surat Perintah
Inspektur Kesehatan Rakyat Jawa-Tengah yang mewajibkan
semua siswa paramedic sebelum                   lulus harus
mengikuti latihan kesehatan masyarakat di DLPKM Salaman .

-      Latihan-latihan bagi petugas-petugas kesehatan
yang sudah bekerja di seluruh Jawa-Tengah terutama Staf
Puskesmas-Puskesmas dengan pembiyaan baik dari Daerah
Propinsi maupun Daerah tingkat Kabupaten      ( Kabupaten
Magelang ).

Dalam rangka pembangunan fisik maka di komplek
DLPKM didirikan beberapa Asrama oleh Departemen
Kesehatan untuk para siswa,hingga mereka itu tidak lagi
dititipkan dirumah-rumah penduduk sedangkan dari Pemerintah
Daerah Propinsi Jawa Tengah telah dibagunkan perumahan
bagi pemimpin dan staf DLPKM serta bantuan alat-alat
pengajaran yang penting.

Kecenderungan kearah surutnya proyek DLPKM dari
Departemen Kesehatan telah terjadi ketika adanya keputusan
bahwa DLPKM sudah tidak ditangani lagi oleh Departemen
Kesehatan dan diserahkan sepenuhnya kepada Dinas
Kesehatan Propinsi Jawa Tengah.
Atas dasar kebijaksanaan tersebut diatas, maka
InspekturKesehatan Propinsi Jawa Tengah dengan Surat
Keputusan tertanggal 23 September 1971 tertanda dr.
R.Brotoseno menyatakan bahwa DLPKM dirubah namanya
menjadi Pusat Latihan Kesehatan Masyarakat ( PLKM ) Jawa
Tengah di Salaman terhitung mulai tanggal 1 Januari 1971.
Didalam Surat Keputusan tersebut dinyatakan diantaranya
bahwa perubahan itu tidak merubah status dan fungsi dari
PLKM.

Didalam pelaksanaan keputusan tersebut memang mula-mula
fungsi pelayanan kesehatan masyarakat dan latihan-latihan
bagi tenaga kesehatan tidak berkurang, hanya bahwa didalam
penganggaran rutin PLKM mengalami kesulitan yang gawat
oleh karena baik Departemen Kesehatan maupun daerah
Propinsi Jawa Tengah semuanya merasa tidak memiliki Unit
PLKM tersebut, akhirnya keadaan ini diperberat lebih parah lagi
disebabkan adanya Keputusan Pemeritah Daerah Propinsi
Jawa Tengah / Kepala Dinas Kesehatan Tingkat I untuk
membangun Pusat Latihan tenaga-tenaga Kesehatan sendiri di
Sewakul-Ungaran.Hal ini mengakibatkan sebagian besar
latihan-latihan dengan biaya Pemerintah Daerah dilaksanakan
sendiri di Pusat Latihan Ungaran, bahkan selanjutnya sebagian
besar siswa-siswa paramedic ditarik untuk dilatih di Ungaran
juga.
Dasar pengambil-alihan ini ialah bahwa latihan-latihan dengan
biaya Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Tengah ( DIP Daerah )
diharuskan pelaksanaanya oleh Pusat sehingga hanya
melaksanakan latihan-latihan dari biaya DIP Pusat.
Namun kenyataannya latihan-latihan dengan DIP Pusat
dilaksanakan sendiri juga oleh unit-unit kesehatan sendiri
seperti unit P 3 M dan unit Sanitasi.

Dalam situasi dimana latihan-latihan sangat langka
dilaksanakan di PLKM Salaman, maka Pimpinan PLKM beserta
stafnya banyak mengarahkan kegiatannya dalam bidang
pelayanan kesehatan masyarakat melalui Puskesmas Salaman
yang dampaknya disamping memperbaiki status kesehatan
masyarakat di daerah ex Kawedanan Salaman juga oleh
Departemen Kesehatan telah dipilihnya Puskesmas Salaman (
di bawah pimpinan dr. Winarno Djojoprajitno yang juga
merangkap sebagai Pimpinan PLKM ) menjadi Puskesmas
terbaik untuk Jawa Tengah tahun 1974 .
Demikian juga dari hasil penelitian / survey dan pelayanan
kesehatan  masyarakat di daerah ex Kawedanan Salaman oleh
PLKM telah di manfaatkan untuk mengembangkan dan
mendukung perbaikan dan pembaharuan latihan - latihan yang
di selenggarakan di PLKM Salaman , baik untuk kurikulum
Latihan tenaga - tenaga  Puskesmas , diantaranya yang paling
menonjol adalah kurikulum latihan Manajemen Puskesmas dan
pelayanan Keluarga Berencana melalui Puskesmas .

Adapun adanya kegiatan latihan - latihan dan pelayanan
Keluarga Berencana dari PLKM ,hal ini dimungkinkan karena
atas kebijaksanaan dr .R.A.   Sumiani sebagai Ketua BKKBN
Propinsi Jawa Tengah telah mengembangkan bahwa PLKM
Salaman menjadi Pusat Latihan dari  BKKBN  Jawa Tengah
yaitu sebagai Provincial Training Centre dengan field practice
area ex Kawedanan Salaman .
Selanjutnya agar PLKM   Salaman betul - betul mampu
melaksanakan latihan - latihan dan pelayanan Keluarga
Berencana dengan baik maka BKKBN  Jawa Tengah telah
memberikan kesempatan kepada dr . Winarno Djojoprajitno ;
untuk mengikuti Short Trainig baik di Thailand maupun di India
dalam bidang Administratve dan Trainig bidang Keluarga
Berencana .

Sedangkan para staf  PLKM diberi kesempatan mengikuti
latihan-latihan selama 3 (tiga) bulan di Pusat Latihan Keluarga
Berencana PKBI  di Jakarta .
Hasil pembinaan BKKBN Jawa Tengah pada PLKM   Salaman
di antaranya adalah :
-    Didalam pelayanan Keluarga Berencana dimana
kemampuan memberi pelayanan medis untuk kontrasepsi IUD
adalah yang pertamakali untuk kawasan di Kabupaten
Magelang sehingga jumlah akseptor IUD di daerah ex
Kaeadanan Salaman cukup tinggi .
-    Adanya pelayanan yang sudah terintegrasi antara KB
Kesehatan melalui Puskesmas Salaman beserta peran serta
masyarakat .
-    Adanya beberapa peneltian alat kontasepsi Depo
Provera di daerah ex Kawedanan Salaman .
-    Didalam bidang latihan-latihan KB, PLKM   Salaman
melatih dokter-dokter pimpinan klinik KB,  Bidan dan Pembantu
Bidan Keluarga Berencana, Pimpinan Kelompok PLKB  dan
latihan Pelatih PLKB Serta beberapa penyelenggaraan Rapat
Kerja baik di tingkat Kabupaten, Propinsi maupun Regional .
Selaras dengan perkembangan organisasi BKKBN
mempunyai unit- unit latihan sendiri, maka sejak tahun 1976
latihan untuk tenaga-tenaga Keluarga Berencana tidak lagi di
latih di PLKM  Salaman tetapi di Balai Penataran milik BKKBN
sendiri, sehingga selama 2 (dua) tahun PLKM  hanya melatih
siswa paramedic dan mahasiswa kedokteran dan hanya
kadang-kadang saja ada beberapa latihan untuk tenaga
Puskesmas .  memang sudah sejak tahun 1971 s/d 1978 sama
sekali tidak ada, akibatnya PLKM didalam kegiatan rutinnya
pembiyayaannya selama itu harus berdikari .
Adapun gaji pegawainnya di peroleh darimasing-masing unit
dimana staf PLKM itu berasal

Status yang terombang - ambing ini akhirnya sirna setelah
keluar Surat Keputusan Mentri Kesehatan
Nomor:150/Menkes/1V/1978 yang menyatakan bahwa PLKM
diubah menjadi  Balai Latihan Kesehatan Msyarakat  ( B L K M
)   dengan status merupakan  Unit Pelaksana Pusdiklat
Departemen Kesehatan RI dengan tugas menyelenggarakan
latihan tenaga Kesehatan dari bidang pelayanan kesehatan
yang telah di tentukan untuk memenuhi kebutuhan pelayanan
kesehatan .
Adapun fungsi BLKM dinyatakan sebagai berikut :
a . Melaksanakan progam latihan tenaga kesehatan
masyarakat .
b . Pengamanan teknis latihan tenaga kesehatan masyarakat .

Atas dasar Surat Keputusan Mentri Kesehatan tersebut maka
BLKM  Salaman makin tumbuh dan semakin diakui
kemampuannya oleh unit-unit kesehatan Pusat dalam
lingkungan Departemen Kesehatan maupun dari Kantor
Wilayah Departemen Kesehatan / Dinas Kesehatan bahwa
pelaksanaan penyelenggaraan latihan di BLKM  Salaman
betul-betul mempunyai bobot dan berdampak yang positif
terhadap pengembangan baik ketrampilan teknis maupun
administrasi bagi tenaga-tenaga kesehatan sebagai
pengembangan program .

Dalam konsep pengembangan selanjutnya BLKM
Salaman akan di kembangkan oleh Departemen Kesehatan
Sebagai BLKM  Nasional dengan fungsi disamping melatih
tenaga-tenaga Kesehatan  juga berfungsi sebagai pusat
Informasi serta berfungsi membantu pengembangan karier
tenaga kesehatan dengan cara Talent Scouting.
Dengan demikian BLKM  Salaman sebagai BLKM  Nasional
disamping menjadi Unit Pelaksana Teknis Pusdiklat yang
terpercaya juga dapat membantu Pusdiklat didalam membina
BLKM tingkat Regional maupun local yang ada di daerah -
daerah lain .-         

Dengan berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No
911/Menkes/SK/X/1993 tentang organisasi dan tata kerja
Balai Pelatihan Kesehatan  , maka BLKM Berubah fungsi
menjadi BAPELKES Balai Pelatihan Kesehatan  yang terdiri
atas Kepala Bapelkes Salaman dan Kasubag Tata Usaha,
Seksi Bina Program dan seksi tata Program serta kelompok
fungsional Widya Iswara.

Mulai  tanggal 22 Oktober 2008, Dengan berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan No 972/Menkes/PER/X/2008
tentang organisasi dan tata kerja Balai Pelatihan Kesehatan
Salaman dan balai Pelatihan Kesehatan Lemah Abang, maka
struktur organisasi terdiri atas Kepala Bapelkes Salaman dan
Kasubag Tata Usaha, Seksi Pengkajian dan Pengembangan,
Seksi Pengendalian Mutu, Seksi Penyelenggaraan Pendidikan
dan pelatihan serta Instalasi serta kelompok Jabatan fungsional
Widya Iswara.

Fasilitas:
1    Visual Projector (LCD) / in focus
2    Camera Tustel
3    Handycame
4    Slide Projector (OHP)
5    Laboratorium Kompurter
6    Laboratorium Bahasa
7    Panthom Partus
8    Panthom KB
9    Panthom Bayi
10    Sound system
11    Laser Disc
12    Wireless
13    Megaphone
14    Microphone table stand
15    Microphone
16    Mimbar Podium
17    Lonceng/genta
18    Wireless microphone
19    Microphone Boom Stam
20    Camera Electronic
21    Slide Projector
22    Layar film projector
23    Sterilisator
24    Stetoskoop
25    Tensimeter mercury
26    Tensimeter pegas
27    Vasectomy Jid vic ing  clam
28    Extractor IUD
29    Speculum model kit
30    Service model kit
31    White board


Kegiatan Unggulan Bapelkes Salaman

1.Primary Health Care (PHC)
Sejak tahun 2000, Bapelkes Salaman telah melakukan
pembinaan terhadap 24 desa di lingkungan Kabupaten
Magelang, untuk mewujudkan Visi Indonesia Sehat 2010, yaitu
masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat. PHC yang
dikembangkan meliputi 8 elemen dasar, yaitu pendidikan
kesehatan, gizi, kesehatan lingkungan, kesehatan ibu dan
anak, imunisasi, pemberantasan penyakit menular, pelatihan
penanganan gawat darurat, dan pemanfaatan tanaman obat.
Pembinaan dilakukan dengan melakukan pelatihan terhadap
kader-kader PHC, yang bersumber dari pemberdayaan
masyarakat.
2.Praktek Belajar Lapangan:
a.Kebidanan Komunitas
b.Kedokteran Komunitas
Telah dilakukan penandatanganan Naskah Perjanjian
Kerjasama antara Bapelkes Salaman dengan Universitas
Diponegoro Semarang pada tahun 2003, dan dengan Fakultas
Kedokteran Universitas Islam Sultan Agung (Unissula)
Semarang pada tahun 2003.
c.Keperawatan Komunitas
3.Pelatihan Kinerja Puskesmas
Hingga saat ini, Bapelkes Salaman telah bekerja sama dengan
beberapa daerah, untuk dipercaya sebagai penyelenggara
Pelatihan Kinerja Puskesmas, antara lain dengan Dinas
Kesehatan Boyolali (2000-2005), Dinas Kesehatan Kota
Pekalongan (2000), Dinas Kesehatan Kabupaten Kudus, dan
Regional Propinsi (Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa Timur,
Jawa Tengah, Jawa Barat, Banten).
4.Pelatihan Building Learning Organization
Pada tahun 2004, telah dilakukan kerja sama dengan Pemkot
Kota Semarang untuk melakukan Pelatihan Building Learning
Organization (BLO), untuk berbagai instansi di lingkungan
Pemkot Kota Semarang.
5.Pelatihan Team Building
Hingga saat ini, telah dilakukan kerjasama dengan berbagai
daerah untuk melakukan Pelatihan Team Building, antara lain
daerah Sukoharjo, Pati, Rembang, dan RS Dr. Karyadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar